Krisis Sampah Jakarta 2026, 9.000 Ton per Hari, PSEL Jadi Solusi Kurangi Ketergantungan Bantargebang

iklan google

Iklan

terkini

iklan

Krisis Sampah Jakarta 2026, 9.000 Ton per Hari, PSEL Jadi Solusi Kurangi Ketergantungan Bantargebang

SUARA MEDIA NEWS
05 Mei 2026, 15:45 WIB Last Updated 2026-05-05T08:45:22Z
 
sampah Jakarta 2026
penandatanganan kerja sama antara pemerintah daerah dan Daya Anagata Nusantara sebagai mitra pengembangan proyek (dok kemenlh)


Jakarta – SuaraMediaNews.com | Permasalahan sampah Jakarta 2026 kian mendesak untuk segera ditangani. Setiap harinya, ibu kota menghasilkan lebih dari 9.000 ton sampah, angka yang terus meningkat tanpa diimbangi sistem pengelolaan yang optimal.


Selama ini, sebagian besar sampah tersebut berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang. Namun, kapasitas fasilitas ini semakin terbatas seiring meningkatnya volume sampah yang masuk setiap hari.


Baca Juga : PSEL Lampung Barat: Solusi Pengelolaan Sampah Jadi Energi Listrik, Target Indonesia Bersih 2029


Bantargebang yang selama ini menjadi tulang punggung pengelolaan sampah Jakarta kini berada di ambang batas. Tumpukan sampah terus meninggi, sementara ruang penampungan semakin menyempit.


Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa sekitar 87 persen sampah di Jakarta masih belum terkelola secara optimal. Artinya, persoalan tidak hanya terletak pada volume, tetapi juga pada sistem pengolahan yang belum mampu mengimbangi laju produksi sampah.


Jika tidak segera ditangani, krisis ini berpotensi memicu dampak serius, mulai dari pencemaran lingkungan hingga ancaman kesehatan masyarakat.


Sebagai langkah strategis, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempercepat pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).


Dilansir dari web resmi kemenlh.go.id, Langkah ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara pemerintah daerah dan Daya Anagata Nusantara sebagai mitra pengembangan proyek. Senin (4/5/2026).


Baca Juga : Moment Hari Lingkungan Hidup Sedunia Pemkab Ogan Ilir Raih Juara Harapan 2 Dari Gubernur Sumsel


PSEL diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi krisis sampah Jakarta, dengan mengubah sampah menjadi sumber energi listrik yang bermanfaat.


Berbeda dengan metode konvensional yang hanya mengangkut dan menimbun, teknologi PSEL memungkinkan sampah diolah menjadi energi.


Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa energi terbarukan.


PSEL menjadi jawaban atas keterbatasan lahan serta meningkatnya volume sampah yang tidak lagi bisa ditangani dengan cara lama.


Meski menjanjikan, pembangunan PSEL tidak dapat selesai dalam waktu singkat. Proyek ini diperkirakan baru akan beroperasi dalam dua hingga tiga tahun ke depan.


Artinya, dalam masa transisi tersebut, Jakarta tetap harus menghadapi beban sampah yang tinggi setiap harinya.


Baca Juga : Cara Daftar BPJS Gratis 2026 untuk Warga Lampung Barat, Ini Syarat dan Langkah Lengkapnya


Pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Langkah sederhana seperti:

menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan dari hulu ke hilir.


Dengan kombinasi antara teknologi PSEL dan kesadaran masyarakat, Jakarta diharapkan mampu keluar dari krisis sampah yang selama ini membayangi.


Transformasi menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat.


(smn)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Krisis Sampah Jakarta 2026, 9.000 Ton per Hari, PSEL Jadi Solusi Kurangi Ketergantungan Bantargebang

Terkini

Iklan