Peternak Soloraya Mandi Telur di Solo, Protes Harga Ayam Broiler dan Telur yang Anjlok

seedbacklink

hilltopads

terkini

Peternak Soloraya Mandi Telur di Solo, Protes Harga Ayam Broiler dan Telur yang Anjlok

SUARA MEDIA NEWS
08 Juli 2026, 11:34 WIB Last Updated 2026-07-08T04:34:42Z

 

harga telur anjlok

Peternak memanen telur ayam ras di sentra peternakan ayam petelur Desa Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026).
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar


SOLOSuaraMediaNews.com | Puluhan peternak ayam petelur dan pedaging dari wilayah Soloraya menggelar aksi unik namun sarat pesan di kawasan Bundaran Gladak, Kota Solo, Selasa (7/7/2026). Dalam aksi itu, para peternak membagikan telur rebus, ayam hidup, hingga jagung kepada masyarakat, bahkan salah satu peserta melakukan aksi mandi telur sebagai simbol protes atas harga telur anjlok dan merosotnya harga ayam broiler di tingkat peternak.


Aksi tersebut digelar sebagai bentuk kekecewaan para peternak terhadap kondisi usaha unggas yang dinilai semakin berat dalam beberapa bulan terakhir. Selain harga jual hasil ternak terus turun, mereka juga harus menghadapi kenaikan harga bahan baku pakan yang dinilai makin menekan biaya produksi.


Berdasarkan laporan Republika.co.id, para peternak membawa ratusan ayam hidup ke lokasi aksi dan membagikannya kepada masyarakat yang melintas. Tak hanya itu, telur rebus dan jagung juga dibagikan kepada para pengendara di sekitar Bundaran Gladak sebagai bagian dari aksi solidaritas sekaligus bentuk protes terbuka kepada pemerintah.


Puncak aksi terjadi saat salah seorang peternak memecahkan telur ke tubuhnya sendiri atau melakukan aksi mandi telur di Solo. Aksi simbolis itu dilakukan untuk menggambarkan beratnya tekanan ekonomi yang tengah dirasakan peternak akibat jatuhnya harga jual hasil ternak di bawah harga acuan dan biaya produksi yang terus meningkat.


Koordinator aksi, Chris Handrika Immanuel Raharjo, mengatakan saat ini harga ayam broiler di tingkat kandang hanya berada di kisaran Rp12.500 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang disebut berada di level Rp19.500 per kilogram.


Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas telur. Menurut Chris, harga telur di tingkat peternak saat ini hanya sekitar Rp16.500 per kilogram, padahal sebelumnya harga acuan penjualan telur berada di angka Rp26.500, lalu diturunkan menjadi Rp24.000.


“Harga telur hari ini bisa menyentuh Rp16.500 di kalangan peternak, sedangkan harga acuan Rp19.500. Bahkan kemarin ditetapkan harga acuan baru Rp24.000, padahal sebelumnya Rp26.500. Secara logika, kalau harga bahan baku naik, kenapa harga acuan penjualan telur justru diturunkan, kami butuh jawaban,” kata Chris seperti dilansir Republika.co.id.


Keluhan peternak tidak berhenti pada harga jual yang merosot. Mereka juga menyoroti lonjakan harga pakan ternak, terutama bahan baku seperti bungkil kedelai dan jagung. Chris mengungkapkan, harga bungkil kedelai bahkan naik sekitar Rp2.000 dalam enam bulan terakhir, padahal pemerintah telah menerapkan skema impor satu pintu yang semestinya bisa membantu menekan harga.


Menurut dia, kebijakan impor satu pintu justru belum memberi dampak positif bagi peternak. Sebaliknya, beban biaya produksi semakin besar karena harga bahan baku tetap tinggi, sementara harga jual ayam dan telur terus menurun.


Selain bungkil kedelai, harga jagung juga menjadi sorotan. Chris menyebut harga jagung di tingkat peternak saat ini berkisar Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram, jauh di atas harga acuan pemerintah sebesar Rp5.500 per kilogram.


“Kalau telur saja saat mahal langsung dilakukan operasi pasar, kenapa jagung saat mahal tidak diperlakukan sama? Kami melihat ada ketimpangan dan ketidakadilan bagi peternak,” ujarnya.


Chris memperkirakan kerugian yang ditanggung peternak cukup besar. Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) telur yang mencapai sekitar Rp26.000 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp16.500 per kilogram, maka peternak bisa merugi sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 untuk setiap kilogram telur yang dijual.


Jika seorang peternak kecil memelihara sekitar 1.000 ekor ayam dan menghasilkan 50 kilogram telur per hari, maka kerugian yang harus ditanggung bisa mencapai Rp500 ribu per hari. Angka itu belum termasuk biaya listrik, vaksin, tenaga kerja, dan kebutuhan operasional lain yang juga terus meningkat.


Menurut Chris, pemerintah selama ini dinilai lebih cepat turun tangan ketika harga telur di pasaran naik karena dianggap memberatkan konsumen. Namun ketika harga telur anjlok di tingkat peternak, intervensi yang diharapkan justru tidak terasa.


“Pemerintah jarang hadir saat harga murah. Tapi kalau harga tinggi, segera operasi pasar. Kami berharap ada regulasi yang adil,” tegasnya.


Senada dengan itu, anggota Gabungan Peternak Soloraya, Parjuni, mengatakan aksi tersebut juga dipicu oleh stok telur yang menumpuk di kandang dan belum terserap pasar. Kondisi itu membuat peternak semakin tertekan karena hasil produksi tidak tersalurkan, sementara biaya pemeliharaan terus berjalan.


“Kebetulan telur ini tidak laku. Daripada dibuang percuma, ya kami pakai untuk mandi telur saja. Kami juga kesal karena telur sudah menumpuk di tempat teman-teman peternak,” kata Parjuni.


Menurut Parjuni, ada dua faktor utama yang menyebabkan harga telur terus melemah, yakni kelebihan pasokan (oversupply) dan menurunnya daya beli masyarakat. Ia menilai, meskipun harga telur sudah turun, kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih membuat daya serap pasar tetap rendah.


“Prinsipnya begini, selama masyarakat punya uang, berapa pun harga masih bisa bergerak. Tapi kalau harga sudah murah dan tetap tidak terbeli, artinya memang daya beli masyarakat sedang lemah,” ujarnya.


Aksi peternak Soloraya ini menjadi gambaran nyata tekanan yang sedang dihadapi sektor peternakan unggas. Para peternak berharap pemerintah tidak hanya fokus pada stabilitas harga di tingkat konsumen, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan usaha peternak, termasuk menjaga keseimbangan harga jual, biaya produksi, dan pasokan pakan.


Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa langkah penanganan yang konkret, peternak khawatir banyak usaha kecil dan menengah di sektor unggas tidak mampu bertahan. Padahal, sektor ini menjadi salah satu penopang penting kebutuhan pangan masyarakat sekaligus sumber penghidupan ribuan keluarga di berbagai daerah.

(smn)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Peternak Soloraya Mandi Telur di Solo, Protes Harga Ayam Broiler dan Telur yang Anjlok

Terkini

Topik Populer

Iklan