Artikel - Suara Media News | Sisa Napas di Ujung Malam
Gemuruh hujan dan petir di luar rumah seolah berderang memacu irama detak jantungku yang begitu cepat.
Sudah jam 12 malam. Di meja yang berantakan, tagihan bulan ini menumpuk, beradu dengan kebutuhan-kebutuhan yang dalam dalam minggu ini harus diadakan.
Baca Juga :
Napasku sesak. Rasanya, dadaku seperti dihimpit batu besar yang tak kasat mata.
"Aku menyerah," bisikku pada diri sendiri. Suaranya serak, tenggelam dalam deru hujan dan petir diluar rumah.
Aku sudah mencoba. Tuhan tahu aku sudah mencoba?!. Aku bangun, mencari peluang, bekerja apa saja, melakukan apa saja, namun keadaan seolah tertawa melihatku terengah-engah.
Saat dilanda lelah yang teramat sangat, rasanya egois untuk meminta diri ini bertahan lagi.
Aku bercermin di kamera layar laptopku. Wajah di dalam sana terlihat asing. Pucat, kusam, dengan mata yang kehilangan binar.
Seseorang pernah bangun pagi dengan dada sesak dan ketakutan akan kegagalan, dan orang itu adalah aku sekarang.
"Apa gunanya semua ini?" tanyaku pada bayangan itu.
"Mengapa harus aku yang menanggung semua ini?"
Aku sandarkan punggung pada kursi kusam yang setia menemaniku dikala sendiri.
Pikiranku melayang ke masa lalu, saat aku masih punya mimpi-mimpi besar.
Sekarang? Mimpi itu terasa seperti dongeng.
Baca Juga :
Tiba-tiba, pandanganku jatuh pada sebuah folder dilaptopku. Itu catatan puluhan tahun yang yang lalu.
Dengan hati-hati, kubuka file demi file. Di satu file, kutemukan catatan : “Aku ingin jadi kebangaan bagi orang-orang yang kusayangi.
Setetes air mata panas jatuh mengenai laptopku itu. Aku teringat bagaimana dulu Ibu menatapku dengan penuh keyakinan, bahkan saat aku jatuh dari sepeda. “Bangun, Nak. Jangan cuma diam di tanah. Lumpur bisa dibersihkan,” katanya waktu itu.
Kulepas napas panjang. Ternyata, bukan hanya ragaku yang lelah, tapi jiwaku yang lapar akan harapan.
Aku sadar, jika aku menyerah sekarang, semua perjuanganku sebelumnya akan sia-sia.
Lelah bukan berarti aku harus berhenti, lelah hanyalah tanda bahwa aku sudah berjuang keras.
Aku tidak akan membiarkan diriku terpuruk terlalu lama.
Aku berhak merasa sedih, tapi aku juga berhak untuk bangkit.
Kukeringkan air mata, lalu berdiri meski tulang-belulangku terasa berat.
Kuhapus catatan itu, dan membuat dokumen baru. Aku akan menyusun ulang rencana.
Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok, tapi aku tahu, "setelah gelap pasti akan terbit terang".
Aku melihat keluar rumah. Hujan mulai reda. Jam dinding menunjukkan pukul 03:33 dini hari.
Malam yang gelap tadi kini perlahan digantikan oleh hari dan cahaya.
Aku masih di sini. Aku belum kalah.
Baca Juga :
Pesan: Saat Anda merasa ingin menyerah, ingatlah seberapa lama Anda telah berjuang dan bertahan.
Titik terendah bukanlah titik akhir, melainkan pijakan untuk berdiri kembali.

