Di Bawah Langit yang Tak Pernah Menjawab, Doa Seorang Ayah untuk Keluarganya

terkini

iklan kosong

Di Bawah Langit yang Tak Pernah Menjawab, Doa Seorang Ayah untuk Keluarganya

SUARA MEDIA NEWS
27 Februari 2026, 02:46 WIB Last Updated 2026-02-26T19:46:50Z

 

Artikel, Inspirasi, Motivasi
Gambar Illustrasi



Artikel - SUARA MEDIA NEWS | Di sebuah rumah kayu tua di tepi sawah yang menguning dan hutan yang selalu berbisik setiap senja, Arga berdiri memandangi langit yang perlahan berubah ungu. Angin membawa aroma tanah basah dan suara gemericik sungai kecil di belakang rumah mereka. 

Di dunia yang diam-diam menyimpan keajaiban—di mana kunang-kunang bisa menyala lebih terang saat seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh—Arga hanyalah seorang suami bagi Lestari dan ayah bagi dua anaknya yang gemar memeluknya saat fajar. 

Ia ingin memberi mereka istana dari batu bulan, pakaian hangat dari benang cahaya, dan hari-hari tanpa tangis. Namun musim paceklik dan bayang-bayang kegagalan membuat tangannya lebih sering kosong daripada penuh.

Baca Juga : 
Baca Juga : 

Setiap malam, ketika anak-anaknya tertidur di atas tikar anyaman dengan napas kecil yang teratur, Arga duduk di ambang pintu, ditemani cahaya redup lentera dan suara burung hantu dari kejauhan. 

Ia pernah hampir mendapatkan pekerjaan di kota terapung di balik gunung, tempat orang-orang berkata rezeki turun seperti hujan emas, tetapi badai dan penyakit merenggut kesempatan itu. 

Penyesalan tumbuh seperti akar liar di dadanya—bukan karena ia tak berusaha, melainkan karena ia merasa usahanya tak pernah cukup. 

Ia melihat Lestari menyembunyikan lelahnya dengan senyum, dan di situlah hatinya retak; ia ingin menjadi pahlawan, namun yang ia bawa pulang sering kali hanya harapan yang semakin tipis.

Baca Juga : 


Di bawah langit malam yang bertabur bintang—yang konon adalah doa-doa yang belum terjawab—Arga berlutut di tanah, membiarkan air matanya menyatu dengan embun. 

“Ya Tuhan, Engkau yang menyalakan matahari dan memadamkan badai, jika kebahagiaan bukan untukku, maka berikanlah seluruhnya pada istriku dan anak-anakku. 

Jadikan aku kuat menahan lapar agar mereka kenyang, jadikan aku tegar menanggung gelap agar mereka berjalan dalam terang. 

Ampuni aku bila tak mampu menjadi cukup di dunia ini, dan jangan Engkau biarkan penyesalanku lebih besar dari kasihku kepada mereka.

” Angin berhenti sejenak, kunang-kunang menyala lebih terang dari biasanya, dan di rumah kayu itu—meski kemiskinan masih tinggal—cinta tetap menjadi sihir yang tak pernah benar-benar padam.

Baca Juga : 
Saat Aku Merasa Ada di Titik Terendah, Belajar Bangkit dari Keterpurukan

Baca Juga : 
Di Balik Diamnya Ayah, Cinta Tanpa Kata, Pengorbanan Tanpa Keluh


(smn)





Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Di Bawah Langit yang Tak Pernah Menjawab, Doa Seorang Ayah untuk Keluarganya

Terkini

Iklan