| (DOK Pertamina/Istimewa) |
Jakarta - Suara Media News | Kenaikan harga BBM kembali terjadi. PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai 18 April 2026. Penyesuaian ini terjadi setelah lebih dari satu bulan harga BBM non-subsidi tidak mengalami perubahan.
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini mencakup produk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Lonjakan paling signifikan terjadi pada Dexlite yang naik hingga 70,7 persen, seiring meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Baca Juga : Pertengahan November 2025, Berikut Update Harga BBM Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo
Berikut rincian harga BBM terbaru dari Pertamina:
Pertamax (RON 92): Rp 12.600 per liter (tetap)
Pertamax Green 95 (RON 95): Rp 12.900 per liter (tetap)
Pertamax Turbo (RON 98): Rp 19.850 per liter (naik dari Rp 13.100)
Dexlite (CN 51): Rp 24.150 per liter (naik dari Rp 14.200)
Pertamina Dex: Rp 24.450 per liter (naik dari Rp 14.500)
Pertalite (subsidi): Rp 10.000 per liter (tetap)
Biosolar (subsidi): Rp 6.800 per liter (tetap)
Kenaikan harga ini menjadikan Dexlite sebagai produk dengan lonjakan tertinggi, diikuti Pertamina Dex dan Pertamax Turbo.
Kenaikan harga BBM April 2026 tidak terlepas dari gejolak global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang sempat mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia. Meski sempat terjadi gencatan senjata, dampak kenaikan harga masih terasa hingga saat ini.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi memang mengikuti mekanisme pasar. Hal ini sesuai regulasi yang berlaku, sehingga perubahan harga sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak global.
Baca Juga : Resmi Harga BBM Mengalami Penurunan Per 1 Mei 2025, Ini Daftarnya!
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebutkan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi memang sudah dalam tahap akhir pembahasan bersama badan usaha, termasuk Pertamina dan perusahaan swasta.
Menurutnya, pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Sementara itu, harga BBM non-subsidi disesuaikan dengan kondisi pasar dan biaya produksi.
“Penyesuaian ini memang harus dilakukan ketika harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan,” ujarnya. (*)

