Artikel - SuaraMediaNews.com | Senja itu datang dengan lembut, menorehkan warna oranye keemasan di langit desa yang tenang. Di beranda rumah tua, seorang ayah duduk bersandar pada kursi kayu yang sudah mulai rapuh dimakan usia. Di sampingnya, duduk seorang pemuda yang baru pulang dari kota—anak sulungnya yang kini telah bekerja dan jarang pulang.
“Masih sama ya, Ayah selalu duduk di sini setiap sore,” ucap si pemuda, menatap ke arah sawah yang mulai menguning.
Baca Juga : Ini 5 Tanda Kamu Terlahir Baik Hati Menurut Psikologi
Ayahnya tersenyum, keriput di wajahnya semakin jelas. “Senja itu waktu yang paling jujur, Nak. Ia selalu datang untuk mengingatkan, bahwa segala sesuatu yang indah pun akan berakhir. Tapi bukan berarti hilang, hanya berganti bentuk.”
Pemuda itu terdiam. Kata-kata ayahnya selalu sederhana, tapi entah kenapa, selalu menancap dalam hatinya. Dulu, saat masih kecil, ia sering menganggap petuah ayahnya sebagai hal yang sepele. Namun kini, setelah merasakan kerasnya kehidupan di kota, setiap kalimat itu seperti nyala kecil yang menuntunnya pulang.
“Ayah,” katanya pelan, “kenapa Ayah dulu tidak pernah memaksaku jadi seperti yang Ayah mau?”
Sang ayah tertawa kecil, menatap langit yang mulai memerah. “Karena hidup bukan tentang menjadi seperti keinginan orang lain, Nak. Ayah hanya ingin kamu jadi orang baik. Selebihnya, biarlah hidup yang mengajarimu cara berjalan.”
Baca Juga : Menjadi Tua Itu Pasti, Tetapi Menjadi Dewasa Adalah Pilihan
Angin sore berhembus pelan, membawa aroma padi yang hampir siap panen. Mereka berdua diam untuk beberapa saat. Lalu ayah itu kembali berbicara, suaranya lembut tapi penuh makna.
“Kamu tahu, dulu waktu kamu kecil, Ayah sering khawatir. Takut kalau nanti kamu gagal, takut kalau kamu kecewa dengan dunia. Tapi makin ke sini, Ayah sadar… tugas seorang ayah bukan untuk menjauhkan anaknya dari kesulitan. Tugas Ayah adalah memastikan kamu punya hati yang cukup kuat untuk menghadapinya.”
Pemuda itu menatap wajah ayahnya. Ada rasa haru yang menyesak di dadanya. Betapa sering ia lupa membalas semua kebaikan ayahnya, betapa jarang ia menanyakan kabar, padahal lelaki tua itu selalu mendoakannya setiap malam.
“Ayah…” suaranya bergetar, “kadang aku takut gagal. Takut mengecewakan Ayah.”
Baca Juga : Bertambah Umur Sudah Seharusnya Terjadi, Namun Menjadi Dewasa Adalah Pilihan
Sang ayah tersenyum lembut. “Jangan takut gagal, Nak. Ayah pun dulu sering gagal. Bedanya, Ayah tak berhenti mencoba. Gagal itu bukan tanda kamu lemah, tapi tanda kamu sedang belajar jadi kuat. Yang Ayah takutkan hanya satu — kalau kamu berhenti berusaha.”
Matahari mulai tenggelam perlahan. Langit berubah menjadi jingga keunguan, indah tapi sebentar lagi akan gelap.
“Dunia sekarang memang berbeda,” lanjut sang ayah. “Banyak orang mengejar sukses, tapi lupa cara bahagia. Mereka sibuk mencari pengakuan, tapi lupa menghargai diri sendiri. Ingat pesan Ayah, Nak, hidup ini bukan perlombaan. Jalani dengan jujur, dan lakukan dengan hati.”
Pemuda itu menarik napas panjang. Ia menunduk, lalu berkata lirih, “Ayah tahu nggak, pesan-pesan Ayah selalu aku ingat. Kadang saat aku lelah, aku ingat waktu kecil Ayah selalu bilang, ‘kalau kamu capek, jangan berhenti, istirahat sebentar, lalu lanjut lagi.’ Sekarang aku tahu artinya…”
Ayahnya tertawa kecil. “Itu artinya, jangan menyerah. Hidup memang tidak mudah, tapi selalu ada jalan bagi mereka yang mau melangkah dengan sabar.”
Sore itu semakin senyap. Hanya suara jangkrik yang mulai terdengar dari kejauhan. Pemuda itu menatap wajah ayahnya lama-lama, seolah ingin merekam setiap garis, setiap senyum, dan setiap kata yang keluar darinya. Ia sadar, waktu tak akan berjalan mundur.
Sebelum senja benar-benar hilang, ayahnya kembali berkata pelan, “Kalau suatu hari Ayah sudah tidak ada, jangan bersedih terlalu lama. Lanjutkan hidupmu, rawat keluarga kecilmu kelak dengan cinta. Karena itu warisan terbaik yang bisa Ayah tinggalkan — bukan harta, tapi kasih sayang dan nilai kehidupan.”
Pemuda itu tak bisa menahan air matanya. Ia menggenggam tangan ayahnya erat.
“Terima kasih, Yah… untuk semua pesan yang Ayah titipkan. Aku janji, aku akan jadi orang yang Ayah banggakan.”
Sang ayah tersenyum. “Ayah sudah bangga, bahkan sebelum kamu sempat membuktikannya.”
Matahari pun tenggelam sempurna. Langit berubah gelap, tapi di hati pemuda itu, cahaya dari pesan sang ayah tetap menyala — hangat, abadi, dan tak akan pernah pudar.
Pesan Moral Yang Terkandung Dalam Kisah ini :
Seorang ayah mungkin tidak selalu pandai berkata manis atau menunjukkan kasih dengan cara yang lembut, tetapi di balik setiap nasihat dan tindakannya, selalu ada cinta yang besar. Hari Ayah bukan sekadar momen untuk memberi ucapan, tapi juga waktu untuk mengingat kembali setiap pesan berharga yang telah mereka tanamkan dalam hidup kita.
(SN)

