| Harga karet di Sumatera Selatan pada awal Mei 2026 mengalami kenaikan signifikan |
OKI, Sumsel – SuaraMediaNews.com | Harga karet di Sumatera Selatan pada awal Mei 2026 mengalami kenaikan signifikan. Di sejumlah daerah sentra perkebunan, harga karet di tingkat petani bahkan menembus Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram.
Kenaikan harga karet ini disambut positif oleh para petani yang sebelumnya sempat menghadapi harga jual rendah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga : Pengendara Keluhkan Jalan Poros Mesuji Makmur OKI, Rusak dan Berlumpur, Warga Harap Segera Diperbaiki
Berdasarkan pantauan di lapangan, meningkatnya harga karet dipicu tingginya permintaan industri global serta terbatasnya pasokan karet alam dari sejumlah negara produsen.
Salah seorang petani karet di Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan, Sugeng (47), mengaku bersyukur dengan naiknya harga komoditas perkebunan tersebut.
“Syukurlah sekarang harga karet sudah bagus. Sebelumnya sempat di bawah Rp10 ribu, sekarang sudah sampai Rp15 ribu lebih. Sangat membantu ekonomi keluarga,” ujarnya saat ditemui, Kamis (7/5/2026).
Menurut Sugeng, kenaikan harga karet membuat para petani kembali bersemangat menyadap ke
bun mereka setelah sebelumnya banyak yang mengurangi aktivitas produksi karena harga rendah.
Baca Juga : LSM HARIMAU OKU Apresiasi KPK Tahan Empat Tersangka Korupsi Pokir DPRD OKU
Pendapatan Petani Mulai Meningkat
Kondisi ini juga dirasakan petani lainnya di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI). Warga berharap tren kenaikan harga karet di Sumatera Selatan dapat bertahan dalam waktu lama.
Susi (49), petani karet asal OKI, mengatakan kenaikan harga sangat berdampak terhadap kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak.
“Kalau harga bagus seperti sekarang, kebutuhan sehari-hari lebih terbantu. Kami berharap harga jangan turun lagi,” katanya.
Selain meningkatkan pendapatan petani, naiknya harga karet juga mulai menggerakkan aktivitas ekonomi di desa-desa sentra perkebunan.
Dipengaruhi Permintaan Industri Global
Pengamat perkebunan menilai kenaikan harga karet saat ini dipengaruhi tingginya kebutuhan industri otomotif dan manufaktur dunia terhadap bahan baku karet alam.
Di sisi lain, produksi karet dari sejumlah negara penghasil mengalami penurunan akibat faktor cuaca dan berkurangnya luas lahan produktif.
Kondisi tersebut membuat harga karet dunia mengalami penguatan yang turut berdampak pada harga jual di tingkat petani Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan.
Baca Juga : https://www.suaramedianews.com/search?&max-results=20
Meski demikian, para petani berharap pemerintah tetap memberikan perhatian terhadap stabilitas harga komoditas perkebunan agar kesejahteraan petani tetap terjaga.
Dengan tren harga karet yang terus naik, sektor perkebunan di Sumatera Selatan diperkirakan kembali menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat pedesaan pada tahun 2026.
(smn)

