Artikel - SuaraMediaNews.com | Ramadan memang belum tiba, namun suasana Ramadan sudah mulai terasa di berbagai sudut kehidupan masyarakat. Meski masih sekitar sepekan lagi menuju bulan suci, tanda-tandanya hadir perlahan, seolah memberi isyarat bahwa waktu penuh berkah itu kian dekat.
Di pasar-pasar tradisional, geliat aktivitas mulai meningkat. Pedagang kebutuhan pokok dan takjil bersiap lebih awal, sementara masyarakat mulai menyesuaikan pola belanja. Nuansa Ramadan terasa bukan hanya dari ramainya pasar, tetapi juga dari percakapan warga yang mulai membahas menu sahur, buka puasa, hingga rencana mudik.
Menariknya, Ramadan sering kali hadir lebih dulu di hati, sebelum benar-benar tercatat di kalender. Masjid dan musala mulai dibersihkan, jadwal imam dan penceramah disusun, serta pengeras suara kembali ramai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Semua itu menjadi penanda bahwa bulan puasa bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan momentum perubahan sikap dan cara hidup.
Bagi sebagian orang, menunggu Ramadan adalah bagian dari proses menata diri. Ramadan identik dengan pengendalian diri, memperbaiki hubungan sosial, dan memperkuat kepekaan terhadap sesama. Tak heran jika suasana menjelang Ramadan selalu membawa rasa harap dan rindu.
Secara perlahan, ritme sosial masyarakat pun ikut berubah. Agenda hiburan mulai dikurangi, diskusi keagamaan semakin sering terdengar, dan ruang-ruang publik dipenuhi pesan-pesan moral. Bahkan di media sosial, ucapan selamat menyambut Ramadan dan ajakan berbuat kebaikan mulai berseliweran.
Semua ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga peristiwa sosial dan kultural yang mempengaruhi cara masyarakat berpikir dan bertindak.
Meski masih sepekan lagi, suasana Ramadan yang mulai terasa seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk menyiapkan hati dan niat. Menyambut Ramadan bukan sekadar soal menyiapkan fisik, tetapi juga kesiapan mental dan spiritual.
Ramadan selalu datang membawa pesan yang sama: tentang kesederhanaan, kesabaran, dan kepedulian. Dan mungkin, justru di masa-masa menunggu inilah kita belajar menghargai makna kehadirannya.
(smn*)

