| Abdul Wachid B.S. (Guru Besar Bahasa & Sastra Indonesia UIN Saizu Purwokerto) |
Jakarta - SuaraMediaNews.com | Dalam dunia pendidikan, bahasa dan sastra sering ditempatkan dalam satu ruang yang sama. Namun keduanya sejatinya memiliki peran yang berbeda. Jika pengajaran bahasa menjadi pintu awal kesadaran intelektual, maka sastra adalah ruang tempat kesadaran itu menemukan kedalaman batinnya.
Pengalaman panjang di ruang kuliah menunjukkan bahwa sastra tidak pernah hadir sekadar sebagai pelengkap pembelajaran bahasa. Ia bekerja secara senyap, membentuk cara mahasiswa memahami diri, sesama, dan makna hidup yang kerap tersembunyi di balik rutinitas akademik.
BACA JUGA : Upacara HAB ke-80 Kemenag RI di Gedung Surian, Bupati Parosil Tegaskan Pentingnya Kerukunan Umat
Secara teknis, pengajaran bahasa dapat dianggap tuntas ketika mahasiswa menguasai kemampuan membaca kritis, menulis akademik, atau menganalisis struktur teks. Namun sastra melampaui capaian itu. Ia mengajak pembacanya merasakan, merenung, dan mempertanyakan pengalaman hidupnya sendiri.
Pemikir humaniora Martha Nussbaum menegaskan bahwa pendidikan sastra menumbuhkan imajinasi moral, yakni kemampuan memahami penderitaan dan harapan orang lain dari sudut pandang kemanusiaan. Dalam konteks ini, sastra bukan semata keindahan bahasa, melainkan proses etis yang membangun kesadaran batin.
Di sinilah pendidikan bahasa menemukan makna terdalamnya. Bahasa menyediakan alat komunikasi, sementara sastra memberi arah nurani. Bahasa membangun struktur berpikir, sastra menyalakan empati.
Transformasi terbesar di ruang kelas sering kali justru terjadi dalam keheningan. Sebuah teks sastra—puisi, cerpen, atau refleksi personal—dapat menghadirkan suasana hening yang penuh makna. Pada saat itu, bahasa berubah menjadi jembatan empati, bukan sekadar objek analisis.
BACA JUGA : Menag Nasaruddin Umar, ASN Kemenag Harus Mewarnai AI dengan Nilai Keagamaan
Pemikir pendidikan Paulo Freire memandang pendidikan sebagai proses membangkitkan kesadaran manusia terhadap realitas sosialnya. Dalam pembelajaran sastra, membaca teks berarti membaca dunia: memahami konflik, ketidakadilan, dan kemanusiaan secara lebih mendalam.
Tanpa pengalaman sastra, pembelajaran bahasa berisiko berhenti pada kemampuan teknis. Mahasiswa mungkin mampu berbicara dan menulis dengan baik, tetapi kehilangan kepekaan untuk memahami penderitaan orang lain.
Salah satu ciri khas perjumpaan dengan sastra adalah munculnya keheningan. Keheningan ini bukan kekosongan, melainkan ruang batin tempat makna bekerja lebih dalam daripada penalaran rasional.
Pemikir spiritual Annemarie Schimmel menyebut keheningan sebagai medium penerimaan makna yang tak terucapkan. Dalam pembelajaran sastra, keheningan menjadi tanda bahwa pendidikan sedang menyentuh lapisan terdalam kesadaran manusia—lapisan tempat pengetahuan berubah menjadi kebijaksanaan.
Sering kali pembelajaran sastra terjebak pada analisis formal: tema, alur, dan gaya bahasa. Padahal, tujuan terdalamnya adalah membangun kesadaran etis. Karya sastra menghadirkan cermin moral yang memaksa pembaca bertanya tentang tanggung jawab kemanusiaan.
Diskusi karya-karya seperti tulisan Pramoedya Ananta Toer tidak hanya membahas struktur cerita, tetapi juga membuka percakapan tentang ketidakadilan sosial yang masih relevan hingga hari ini. Sastra menjadi ruang refleksi yang hidup, bukan jawaban instan.
Di tengah disrupsi teknologi, sastra tidak kehilangan relevansinya. Medium boleh berubah—dari buku cetak ke layar digital—namun kebutuhan manusia akan makna tetap sama. Puisi dibaca melalui rekaman suara, cerpen didiskusikan di forum daring, dan drama diadaptasi menjadi podcast.
Teknologi mempercepat arus informasi, tetapi sastra memperlambat kesadaran, memberi ruang bagi manusia untuk memahami hidup secara lebih mendalam. Tanpa sastra, manusia berisiko mengetahui banyak hal tanpa benar-benar memahami makna kehidupan.
BACA JUGA : Sempat Terganggu, Penerbangan Haji Indonesia Mulai Lancar, Meski Sempat Terdampak Konflik Iran-Israel
Perubahan yang dibawa sastra jarang terlihat seketika. Ia bekerja perlahan, tumbuh di dalam kesadaran batin. Banyak lulusan perguruan tinggi mengakui bahwa pengalaman membaca sastra di bangku kuliah membentuk cara mereka memandang manusia dan kehidupan, meski profesi mereka tidak berkaitan langsung dengan dunia sastra.
Pemikir Ngũgĩ wa Thiong’o menegaskan bahwa bahasa dan sastra adalah penjaga ingatan dan kesadaran budaya. Menjaga sastra berarti menjaga kemanusiaan itu sendiri.
Pada akhirnya, pendidikan bahasa menemukan jiwanya ketika bersentuhan dengan sastra. Bahasa membentuk pikiran, sastra membentuk rasa. Ketika keduanya berpadu, lahirlah manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peka dan bijaksana.
Peradaban dibangun oleh ilmu dan teknologi, tetapi kemanusiaan dijaga oleh cerita dan kata-kata yang menyentuh hati. Selama manusia masih membaca untuk memahami hidupnya, sastra akan tetap menjadi jalan sunyi kesadaran dalam pendidikan.
Editor : San's

