| Gambar : Cerita ini viral di Facebook setelah dibagikan oleh akun Harpi Ani dalam unggahan bertajuk Info Kecelakaan Hari Ini, |
Artikel — Suaramedianews.com || Sebuah kisah pilu tentang perjuangan hidup dan ironi cinta menjadi perbincangan hangat di media sosial. Cerita ini viral di Facebook setelah dibagikan oleh akun Harpi Ani dalam unggahan bertajuk Info Kecelakaan Hari Ini, yang menuai ribuan reaksi emosional dari warganet.
Kisah tersebut mengangkat kehidupan seorang pria sederhana yang bekerja sebagai kuli bangunan, rela mengorbankan tenaga, waktu, bahkan rasa sakit demi mendukung pendidikan istrinya hingga lulus dan menjadi guru berstatus PNS.
Dalam narasi yang menyentuh, diceritakan bahwa setiap pagi sang suami telah berdiri di pinggir jalan sebelum matahari terbit. Dengan pakaian kerja lusuh dan tangan kapalan, ia menjalani pekerjaan berat bukan karena tak memiliki mimpi, melainkan demi satu tujuan: agar istrinya bisa menggapai masa depan yang lebih baik.
Dari penghasilan harian yang terbatas, ia menyisihkan uang untuk biaya kuliah, fotokopi modul, ongkos perjalanan, hingga kebutuhan makan sederhana. Ia bahkan dengan setia mengantar dan menjemput sang istri, menunggu di luar kampus dengan sabar, meski sering menahan lapar dan kelelahan.
“Tahan sedikit, kalau dia berhasil hidup kami akan lebih baik,” menjadi keyakinan yang ia tanamkan pada dirinya sendiri.
Tahun demi tahun berlalu, hingga kabar bahagia itu datang. Sang istri dinyatakan lulus dan resmi menjadi aparatur sipil negara. Tangis bahagia pun pecah, bukan karena status semata, melainkan karena perjuangan panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Tak lama setelah surat keputusan (SK) diterima, sang suami justru menerima kenyataan pahit. Kalimat yang menghancurkan datang dari orang yang selama ini ia perjuangkan.
“Aku malu punya suami tukang bangunan.”
Ucapan tersebut menjadi luka terdalam. Lebih menyakitkan dari kerasnya pekerjaan yang selama ini ia jalani. Gugatan cerai pun diajukan, bukan karena perselingkuhan, kekerasan, atau kelalaian tanggung jawab, melainkan semata karena perbedaan status sosial.
Pria itu memilih diam. Ia tak melawan, tak membuka aib, dan tak menyalahkan siapa pun. Ia kembali ke proyek bangunan, menggali tanah seperti biasa. Namun yang hilang bukan sekadar pasangan hidup, melainkan keyakinan bahwa cinta akan selalu setia pada asal perjuangan.
Kisah ini menyentuh hati banyak netizen dan menjadi viral di Facebook karena dianggap mencerminkan realitas sosial yang masih terjadi: ketika cinta diuji bukan oleh kesetiaan, melainkan oleh status dan gengsi.
Warganet berharap, suatu hari kelak lelaki sederhana ini akan menemukan kebahagiaan yang tulus—kebahagiaan yang tak memandang profesi atau jabatan.
Karena sejatinya, cinta sejati tumbuh bersama dalam perjuangan, bukan pergi saat salah satu mulai berdiri lebih tinggi.
(smn)

