| Langit senja di Negeri Arvandor selalu berwarna keemasan. |
Artikel - SuaraMediaNews.com | Langit senja di Negeri Arvandor selalu berwarna keemasan. Di balik pegunungan yang diselimuti kabut, berdiri sebuah pohon raksasa bernama Pohon Harapan, tempat setiap orang menggantungkan impian mereka.
Konon, siapa pun boleh datang membawa mimpi sebesar apa pun. Tidak ada penjaga yang melarang, tidak ada biaya untuk menitipkan harapan. Semua orang bebas bermimpi.
Namun, hanya sedikit yang mampu kembali membawa mimpinya menjadi kenyataan.
Di kaki pohon itu berdiri seorang pemuda bernama Sari. Ia membawa secarik kain lusuh bertuliskan satu kalimat sederhana.
"Aku ingin menjadi cahaya bagi banyak orang."
Seorang kakek berjubah putih menghampirinya.
"Apakah kau tahu harga sebuah mimpi?" tanyanya.
Sari menggeleng.
"Apa harus membayar dengan emas?"
Sang kakek tersenyum pelan.
"Tidak."
"Lalu dengan apa?"
"Dengan air mata, kesabaran, waktu, kegagalan, dan keberanian untuk bangkit setiap kali jatuh."
Sari terdiam.
Hari itu ia mulai mengerti bahwa mimpi itu mahal. Mahalnya bukan karena mimpinya, melainkan karena proses menuju kesuksesan yang harus dilalui.
Perjalanan Sari dimulai.
Ia harus melewati Hutan Keraguan.
Setiap langkah yang diambil selalu terdengar bisikan.
"Kamu tidak akan berhasil."
"Orang lain lebih hebat."
"Sudahlah, menyerah saja."
Semakin ia mendengar suara itu, semakin berat kakinya melangkah.
Hingga suatu hari ia bertemu seekor burung kecil yang sayapnya terluka.
Burung itu tetap berusaha terbang.
Berkali-kali jatuh.
Berkali-kali mencoba lagi.
Sari bertanya, "Mengapa kau tidak menyerah?"
Burung itu menjawab,
"Karena langit tidak pernah memberikan tempat bagi mereka yang berhenti mengepakkan sayap."
Sejak saat itu Sari belajar satu hal.
Jangan menyerah mengejar mimpi, meskipun perjalanan terasa begitu melelahkan.
Perjalanan berikutnya lebih berat.
Ia memasuki Lembah Kegagalan.
Di sana ribuan pedang tertancap di tanah.
Setiap pedang adalah simbol mimpi yang ditinggalkan pemiliknya.
Ada yang menyerah karena diejek.
Ada yang berhenti karena gagal sekali.
Ada pula yang memilih kembali sebelum garis akhir.
Sari hampir ikut menyerah.
Namun seorang wanita tua datang membawa lentera.
"Apakah kau tahu mengapa tempat ini penuh pedang?"
Sari menggeleng.
"Karena banyak orang mengira kegagalan adalah akhir."
Wanita itu kemudian menunjuk sebuah bunga kecil yang tumbuh di sela bebatuan.
"Lihat bunga itu."
"Tidak ada tanah subur."
"Tidak ada air yang cukup."
"Tetapi ia tetap mekar."
"Hidup bukan tentang seberapa mudah jalannya."
"Hidup adalah tentang seberapa kuat kita bertahan."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Sari.
Ia akhirnya memahami bahwa belajar dari kegagalan jauh lebih berharga daripada keberhasilan yang datang tanpa perjuangan.
Hari berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Rambut Sari mulai memutih.
Tangannya dipenuhi bekas luka.
Ia pernah kehilangan teman.
Pernah ditipu.
Pernah gagal.
Pernah menangis sendirian.
Namun setiap kali jatuh, ia selalu mengingat satu kalimat.
"Teruslah berikhtiar, karena Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan perjuangan yang tulus."
Ia kembali berdiri.
Melangkah lagi.
Dan lagi.
Suatu malam ia tiba di Gerbang Cahaya.
Di sanalah Pohon Harapan tumbuh.
Kakek berjubah putih yang dulu ditemuinya masih berdiri di sana.
"Apakah sekarang kau tahu harga sebuah mimpi?"
Sari tersenyum.
"Ya."
"Harganya adalah waktu yang rela dikorbankan."
"Harganya adalah ego yang harus dikalahkan."
"Harganya adalah kesabaran ketika doa belum dijawab."
"Harganya adalah keberanian saat semua orang meragukan."
"Harganya adalah keikhlasan untuk terus berjalan meski hasil belum terlihat."
Sang kakek mengangguk bangga.
"Dan hadiah terbesar dari semua itu bukanlah keberhasilan."
"Lalu apa?"
"Dirimu yang telah berubah menjadi lebih kuat."
Saat itulah Sari menyadari sebuah rahasia besar.
Ternyata tujuan perjalanan bukan hanya mencapai mimpi.
Tetapi menjadi manusia yang pantas menerima mimpi itu.
Ia menoleh ke belakang.
Semua rasa sakit yang dulu ingin ia hindari justru menjadi guru terbaik dalam hidupnya.
Tanpa kegagalan, ia tidak akan mengenal kesabaran.
Tanpa kehilangan, ia tidak akan menghargai kebersamaan.
Tanpa air mata, ia tidak akan mengerti arti syukur.
Tanpa proses panjang, ia tidak akan menjadi pribadi yang tangguh.
Dan akhirnya ia berkata kepada siapa pun yang sedang berjuang.
"Jangan pernah iri kepada orang yang sudah sampai di puncak. Kita tidak pernah tahu berapa banyak badai yang mereka lewati."
"Jangan pernah mengutuk proses. Karena proseslah yang sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat."
"Teruslah melangkah meski pelan. Sebab yang berhenti pasti tertinggal, sedangkan yang terus berjalan suatu hari akan sampai."
Karena pada akhirnya...
Mimpi memang mahal.
Bukan karena mimpinya sulit dimiliki.
Tetapi karena setiap mimpi meminta harga berupa kesabaran, kerja keras, doa yang tak putus, hati yang tetap ikhlas, dan keberanian untuk bangkit setiap kali kehidupan menjatuhkan.
Percayalah, tidak ada proses yang sia-sia.
Setiap tetes keringat adalah investasi.
Setiap air mata adalah pelajaran.
Setiap kegagalan adalah bekal.
Dan setiap langkah kecil yang terus dilakukan dengan sabar akan mengantarkan kita pada tempat yang dahulu hanya berani kita sebut sebagai mimpi.
Semoga kita tetap optimis dalam menjalani proses yang telah disiapkan oleh Tuhan, mohon maaf jika terdapat kesamaan nama, yang tidak disengaja.
(smn)

