| foto hanya ilustrasi (smn) |
Artikel - SuaraMediaNews.com || Di sebuah jalan setapak yang telah lama dilewati banyak orang, terlihat jejak kaki yang saling tumpang tindih. Ada yang dalam, ada yang hampir hilang tergerus waktu. Jalan itu bukan sekadar tanah dan batu—ia adalah saksi perjalanan hidup manusia yang tak pernah benar-benar sama, meski langkahnya sering bertemu.
BACA JUGA : Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
Aku berdiri di sana, menatap jejak langkah kehidupan yang sudah banyak disinggahi. Setiap tapak menyimpan cerita. Ada langkah yang penuh keyakinan, ada pula yang tertatih namun tetap maju. Di antara jejak-jejak itu, tersimpan tawa, air mata, kehilangan, dan harapan yang pernah runtuh lalu dibangun kembali.
Tak semua yang melintas di jalan ini sampai dengan mudah. Beberapa sempat berhenti, duduk di tepi, menunduk lelah. Namun anehnya, tak ada satu pun jejak yang benar-benar sia-sia. Bahkan langkah yang salah arah pun pernah mengajarkan arti pulang.
BACA JUGA : Banyak Hal yang Dapat Membahagiakan Dirimu Sendiri
Dalam makna kehidupan, jalan ini mengajarkan bahwa kita tak harus menjadi yang tercepat, tak pula harus selalu kuat. Kita hanya perlu terus melangkah. Sebab hidup bukan tentang menghapus jejak lama, melainkan berani menambahkan jejak baru—meski dengan kaki gemetar.
Saat matahari condong ke barat, aku menyadari satu hal: jejak kakiku kini menyatu dengan jejak orang-orang sebelumku. Aku bukan yang pertama merasa takut, bukan pula yang terakhir berharap. Dan di situlah motivasi hidup itu tumbuh—kesadaran bahwa setiap langkah kecil tetap berarti.
BACA JUGA : Menjadi Cahaya bagi Orang Lain, Hidup yang Bermanfaat
Jika hari ini langkahmu terasa berat, ingatlah: jalan ini telah dilewati banyak jiwa, dan mereka meninggalkan kenangan agar kita tahu bahwa bertahan adalah pilihan yang mungkin. Teruslah berjalan. Suatu hari, jejak kakimu akan menjadi cerita yang menguatkan orang lain.
(smn/san)

